Jumat, 26 Desember 2014

Jalan Darat ke Malaysia : Singkawang Kuching (Part 6)


Get ready!!! Siapkan stop kontak yang sesuai dengan bentuk ini ya. Jangan sampai Anda mati gaya di Kuching, nggak bisa upload foto dan eksis di medsos :D.
Lobby Hotel tempat saya numpang WIFI gratisan ^_^. Tiap pagi dan malam saya nongkrong disini 1-2 jam untuk eksis di medsos. Karena saya hanya dua hari di Kuching jadi saya memutuskan tidak membeli paket internet dan mengandalkan free wifi dari hotel.
Pemandangan pagi dari kamar hotel saya.
Good Morning Kuching :)
Sunbathing In My Room :P
Out of Cash ^_^. Tadinya saya berusaha banget nggak ambil uang ATM. Tapi nyatanya saya tak mampu menahan godaan untuk membeli macam-macam. Sekalian menjajal narik duit di luar negeri. Hehehe. Pertamanya, saya gagal terus karena saya tidak paham cara menulis pecahan uang RM dan lupa jumlah yang harus disisakan setelah penarikan. 6 kali transaksi gagal dan setiap gagal transaksi dikenakan biaya Rp. 5000. Hiks hiks :(. Akhirnya setelah berpikir keras, transaksi berhasil dengan potongan Rp. 25.000 sekali narik. Hadeuh sesuatu banget ya. Jadi kalau mau narik duit di ATM sekalian gede aja dan disarankan pada hari Selasa-Kamis saat nilai tukar kita rada kuat.
Urusniaga Anda tidak berjaya :P
Ini dia penampakan transaksi di mesin ATM.
Cuma berani foto aja, nggak berani naik. Hehehe. Akhirnya, jalan kaki lagi deh :D.
I'm A Happy Solo Traveler ^_^

Kamis, 25 Desember 2014

Jalan Darat ke Malaysia : Singkawang Kuching (Part 2)

Deretan ruko dan gedung-gedung tinggi di pusat Kota Kuching. Kalau deretan rukonya rada mirip Singkawang, tapi kalau gedung tingginya di Singkawang belum ada. Yeah, gedung tingginya lumayan bikin saya berasa ada di luar negeri gitu deh.
Saya suka deretan ruko ini, so classic!!!
Ikon Kota Kuching dilihat dari belakang.
Taaraaaa...ini buktinya saya sudah sampai Kuching :D. Foto di depan Patung Kuching ini wajib banget! As always, karena jalan sendirian, saya pun minta tolong turis lain untuk menjepret saya dan kucing-kucing semok ini :P.
Pemandangan gedung-gedung tinggi di pinggir Sungai Sarawak. Sungainya bersih yaaa...Kapan sungai Indonesia bisa begini?
Saya menyeberang ke Kampung Boyan dengan menaiki perahu. Walaupun sudah biasa naik perahu bahkan kapal laut di negeri sendiri, naik perahu di negeri orang tetap aja rasanya exciting. Oya, tarif perahu ini unik. Tarif pagi sampai sore sekali menyeberang (bukan PP ya) sejumlah 50 Sen (1RM = Rp. 3600), tapi kalau malam tarifnya 1 RM. Saya nggak sempat tanya kenapa tarifnya berbeda. Menurut anda kenapa? :D
Dermaga Perahu Kampung Boyan. Saya heran dengan jembatan ini, kalau naik rasanya kayu-kayu di jembatan ini kokoh, tapi kalau turun kok berasa kayunya agak rapuh dan saya kayak mau jatuh. Saya nggak tahu apa saya aja, atau orang lain juga merasakan hal yang sama. Mungkin karena bodi saya yang padat berisi kali ya :P.
Waktu saya googling, saya ketemu tulisan yang menyarankan "Kek Lapis Sarawak" sebagai recommended oleh-oleh dari Kuching. Promo Kek Lapis Sarawak ini oke banget, salah satunya diatap kapal ini. Bikin saya makin penasaran sama kek lapis itu.
I think this is my best photo while i was in Kuching. Subhanallah, indah sekali cahaya matahari menyinari Sungai Sarawak. Saya patut berbangga karena gambar ini diambil dari kamera ponsel saya yang underestimate. Hohoho. 
Hooraayyy, bertemu food court atau dalam Bahasa Malaysia "Medan Selera". Tempatnya luas dan sepertinya asyik nongkrong disini agak lama.
Milih-milih tempat duduk nih saya. Hmm...dimana ya??? Akhirnya saya memilih duduk di dekat kipas angin. Suuueeggeerrr rek :D. Secara Kuching hawanya panas bo'.
Senyum saya mengembang membaca menu "Sotong Tukuk", di Singkawang menu itu dikenal dengan nama "Sotong Pangkung". Kata "Pangkung" dan "Tukuk" memiliki makna sama yaitu dipukul-pukul. Hanya saja penggunaan kata "Tukuk" agak lucu untuk saya yang lama di Singkawang. Makanan ini berbentuk sotong atau cumi yang dikeringkan kemudian ditukuk atau dipangkung, dibakar, dan dimakan dengan cara dicocol ke sambal encer. Di Singkawang saya tidak terlalu suka makanan ini, jadi di Kuching saya pun tidak begitu tertarik untuk mencobanya. Hmm, padahal dicoba aja ya, siapa tau berbeda dengan yang di Singkawang. Well, i'll try on the next trip.
Namanya cukup membuat penasaran. Nasi Tsunami? Ah, tapi sayang saya tidak sempat mencobanya karena keterbatasan waktu, perut, dan ringgit. Hehehe :P.
Nah, Mee Kolok ini salah satu yang direkomendasikan oleh banyak blogger untuk dicoba. Ok, noted! Pasti saya coba.
Menu yang juga membuat saya penasaran ingin mencoba. Nasi Tomato??? Makanan itu memang musti unik namanya, jadi orang penasaran pengen coba.

Jalan Darat Ke Malaysia: Singkawang Kuching (Part 1)

Uang Malaysia lucu ya, kayak uang mainan. Tapi nilai tukarnya tidak lucu. Dua tahun yang lalu 1 RM = Rp.3.000 tapi tahun 2014 ini 1 RM = Rp. 3.560. Rupiah oh Rupiah cinta siy gue sama elo, tapi ngenes :S
Jalan yang mulus dan sepi mendominasi perjalanan Singkawang-Kuching. Berbeda sekali dengan belasan tahun lalu ketika saya masih kecil, jalan ke arah Kuching hancur luar binasa. Semestinya memang harus begini ya jalan antar negara ^_^.
Mini Bis yang membawa saya dan penumpang lain dari Singkawang ke Kuching. Lucky me! Saya duduk di depan, walaupun awalnya sempat kesal karena sopir terus-terusan mengajak ngobrol sementara saya ngantuk luar biasa. Syukurnya penumpangnya sedikit yaitu seorang perempuan tua, seorang ibu dan anaknya, seorang pemuda, dan seorang wanita. Bagusnya mereka tidak saling mengobrol atau berisik sepanjang perjalanan. Tapi karena si nenek tidak kuat pakai AC/mabuk darat kalau pake AC, jadinya perjalanan sepanjang Kuching-Singkawang selama 10 jam adalah perjalanan tanpa AC. Ya salam :D.
Bis berhenti di Kecamatan Mandor Kabupaten Landak. Kata supirnya, mobil ini perlu ganti ban. Supaya jalannya lebih enak. Ok lah, untuk keselamatan, berhenti sejenak di pagi yang cerah, lumayan buat merenggangkan badan.
Saat saya sedang enak tidur, supir tiba-tiba menghentikan bisnya lalu bilang "saya mau mandi dulu, yang mau ke WC...yang mau ke WC...". Haha, supirnya "heri (heboh sendiri)" banget ya pake acara mandi segala. Karena bis kami berangkat jam 4 subuh dari Singkawang, supir memilih mandi pagi bukannya mandi subuh agar tidak masuk angin atau sakit. Saya yang tidak mandi tadi subuh senyum-senyum sendiri dan berucap dalam hati "ah, nanti saja mandinya". Setelah urusan ke WC beres, saya duduk dan menemukan pemandangan menarik, perempuan muda berjilbab itu sedang duduk di pinggir tebing. Karena saya khawatir dengan posisinya, saya pun bertanya apa yang dia lakukan dan dia menjawab "saye mabuk kak". Oww, ternyata dia mabuk darat dan sedang memuntahkan isi perutnya. Hehehe. Ok lah. Lanjut :P
Warung di seberang toilet yang tutup karena hari itu adalah Hari Natal / Tanggal 25 Desember. Walhasil, kami hanya duduk-duduk bengong di kursi warung. Sementara penumpang yang bawa bekal makan dengan lahap dan saya pun hanya bisa menelan ludah karena tidak membawa bekal. Nasib...nasib...
Sampai di Desa Sosok Kecamatan Tayan Hulu Kabupaten Sanggau, bis berhenti lagi untuk memberikan kesempatan penumpang makan siang. Dari Pasar Sosok ini berjarak sekitar dua jam ke Perbatasan Entikong-Tebedu. Kami yang masih setengah ngantuk turun dari bis dan langsung berjalan ke arah rumah makan tempat bis kami berhenti. Ternyata itu rumah makan non muslim yang menjual babi, syukurnya pelayan disitu langsung menghalau kami dan menyuruh kami ke rumah makan padang di seberang jalan.
Sempetin minta foto sama penumpang lain sambil menunggu penumpang yang lainnya lagi dicap paspornya.
Horeeeee, paspor saya sudah dicap. Kuching meong meong, aku datang :-)


Jalan Darat ke Brunei

Foto di depan Masjid Omar Ali Saifuddien - Brunei Darussalam. Masjid ini terletak di pusat ibukota Brunei, Bandar Sri Begawan. Kami mencapai...